Latest Entries »

Arewaria Munafiq

Terlalu Munafik Kau Arewaria!!

Aremania ( Read. Arewaria) sebelumnya berjanji akan menyambut rombongan pemain Persebaya yang datang ke Malang dengan damai. Namun janji tersebut hanyalah isapan jempol belaka. Pasalnya rombongan pemain Persebaya menuju stadion Kanjuruan yang diangkut menggunakan truk rantis milik kepolisian tetap dilempari batu, botol mineral, sandal, dan benda-benda lain yang ada di sekitarnya. Ribuan Arewaria meneriaki para pemain Persebaya dengan kata-kata kotor dan banyak yang mengacungkan jari tengah. Bonek memang sudah terlanjur du cap perusuh, tapi kami tidak se munafik kalian Arewaria. Kami meminta maaf dan bertanggung jawab jika melakukan kerusuhan. Tapi kalau kalian?jangankan bertanggung jawab ataupun meminta maaf, mengakui saja tidak.
apa itu perilaku yang ngakunya suporter terbaik?
tanya kenapa????

Bonek  mengatakan..
Settuju .rek .
Aremaling emg memalukan !
.kmren aja .bsa menang vs prsbya .kan ga murni .itu dbntu .cma kelicikan wasit goblok !!
.malu”in .ajjh .
.ttu arema jancok !!
n yg pngecut ttu bkan bonek tp AREMALING !!
.klo bnek pngecut gmungkin bnek dteng k.malang .pke bju bonek !!!
Mana aremaling brani ga dtng k.sby pke bjunya yg kmpungan !! Hha
Bonek  mengatakan…
Salut karo sampeyan cak…g usah direken arewaria iku….suporter paling nggilani, memalukan n menjijikkan….aku pernah dapat link di kaskus yg tempat kumpulnya bencong2 malang iku…isinya ternyata nge-bahas gimana caranya “bonek” di asingkan dan disingkirkan di dunia suporter indonesia…dari komunitas tersebut dapat terlihat kalo mereka (arewaria) iku MUNAFIK, N PALING TAKUT DENGAN BONEK….

 

Saya heran terhadap perilaku PSSI saat ini. Timnas ga pernah menang, kompetisi amburadul, orang-orang di dalam tubuh PSSI pun ada (mungkin banyak) yang Narapidana.

Belakangan ini,setelah PSSI menghukum Persebaya dengan uang ratusan juta, kini kembali (lagi) PSSI menghukum Persebaya dengan denda 250juta.Alasannya karena pada tanggal 14 februari lalu ketika Persebaya bertanding melawan Persib Bandung Bonek dianggap menyanyikan lagu yang berbau intimidatif.

Hukuman ini memang tidak adil, karena di setiap pertandingan ISL tidak hanya Bonek yang menyanyikan lagu seperti itu. Tapi kenapa cuma Persebaya yang dihukum?. Bahkan di Ibukota yang letaknya dekat dengan kantor PSSI, The Jak sering menyanyikan lagu “bonek viking sama saja,sama-sama anjing”. Apa PSSI  tuli?
Kapan ya si anak emas itu dapat sanksi?

“Dalam benak Ketua Komdis PSSI hanya bagaimana bisa membunuh Persebaya secepatnya,betapa tdk nyanyian yg sama bisa ditemui disemua laga ISL,mengapa hanya Persebaya yg dihukum ???????”,ungkap Saleh Mukadar.

Apa di mata PSSI cuma ada uang? Daripada memikrkan uang apa tidak sebaiknya PSSI memikirkan prestasi timnas yang jeblok????

 

anti PSSI mengatakan…

PSSI sarangnya para napi….

sportifitas hanyalah mimpi…

apalagi wasitnya olehadi…

kasih uang sudah pasti jadi….

 

PSSI Anjing mengatakan…

@ anti PSSI setuju brooo…….

TIMNAS tak terurus,TIMNAS hanya jadi bulan2an gol negara    lainnnn….Aku bangga jadi Orang Indonesia,Tapi tidak bangga  dengan pemerintahan.ku yang bobrok dan juga rakus……

PSSI = Pemerintah kand ???

 

fazar the gladiator (viking gladiator BDG timur) mengatakan…

dasar pssi goblog…….ketuanya aja narapidana….dari pada ngurusin masalah nyanyian lebih baik urusin tuh timnas…..dasar pssi komunitas goblog blegug,,,,,fuck pssi

 

BELEGUG mengatakan…

catatan baru kebodohan PSSI:
-telat mendaftarkan pemain asing ke AFC
-INdonesia diacak2 tim lapis kedua australia…

apa lg hal bodoh yg akan dilakukan PSSI??

Bondho Nekat

 

Artikel ini adalah bagian dari pendukung klub Persebaya Surabaya.
Berkas:Bondo Nekat.JPG 

Contoh logo Bondo Nekat (Bonek) dari sekelompok pendukung atau suporter kesebelasan Persebaya Surabaya.

Istilah Bonek, akronim bahasa Jawa dari Bondo Nekat (modal nekat), biasanya ditujukan kepada sekelompok pendukung atau suporter kesebelasan Persebaya Surabaya, walaupun ada nama kelompok resmi pendukung kesebelasan ini yaitu Yayasan Suporter Surabaya (YSS).

Istilah bonek pertama kali dimunculkan oleh Harian Pagi Jawa Pos tahun 1989[rujukan?] untuk menggambarkan fenomena suporter Persebaya yang berbondong-bondong ke Jakarta dalam jumlah besar. Secara tradisional, Bonek adalah suporter pertama di Indonesia yang mentradisikan away supporters (pendukung sepak bola yang mengiringi tim pujannya bertandang ke kota lain) seperti di Eropa.[rujukan?] Dalam perkembangannya, ternyata away supporters juga diiringi aksi perkelahian dengan suporter tim lawan. Tidak ada yang tahu asal-usul, Bonek menjadi radikal dan anarkis. Jika mengacu tahun 1988, saat 25 ribu Bonek berangkat dari Surabaya ke Jakarta untuk menonton final PersebayaPersija, tidak ada kerusuhan apapun.

Secara tradisional, Bonek memiliki lawan-lawan, sebagaimana layaknya suporter di luar negeri. Saat era perserikatan, lawan tradisional Bonek adalah suporter PSIS Semarang dan Bobotoh Bandung. Di era Liga Indonesia, lawan tradisional itu adalah Aremania Malang, The Jak suporter Persija, dan Macz Man fans PSM Makassar. Di era Ligina, Bonek justru bisa berdamai dengan Bobotoh Persib Bandung dan Suporter PSIS Semarang.

Namun tidak selalu Bonek bertindak anarkis ketika kesebelasan Persebaya kalah. Tahun 1995, saat Ligina II, Persebaya dikalahkan Putra Samarinda 0 – 3 di Gelora 10 November. Tapi tidak ada amuk Bonek sama sekali. Para Bonek hanya mengeluarkan yel-yel umpatan yang menginginkan pelatih Persebaya mundur.

Saat masih di Divisi I, Persebaya pernah ditekuk PSIM 1 – 2 di kandang sendiri. Saat itu juga tidak ada aksi kerusuhan. Padahal, jika menengok fakta sejarah, hubungan suporter Persebaya dengan PSIM sempat buruk, menyusul meninggalnya salah satu suporter Persebaya dalam kerusuhan di kala perserikatan dulu.

Tindak anarki yang berkedok bonek adalah merupakan oknum, sejak Persebaya juara pada tahun 2004 banyak sekali masyarakat luar surabaya yang menjadi bonek, di waktu senggang itulah beberapa oknum menyamar menjadi bonek di tahun berikutnya banyak sekali pemberitan yang menjelek jelekan bonek karena tindakanya yang anarki, hal tersebut karena ulah oknum dari musuh bonek yang menyamar hingga saat ini bonek selalu di adu dombakan oleh supporter lain, seperti delta mania supporter Deltras sidoarjo, dalam sejarahnya tidak ada permusuhan antara bonek dengan delta, malah persahabatan yang erat, setelah delta ke ISL lolos dari divisi utama tiba-tiba delta menjadi musuh bonek dan mencaci maki sampai seluruh bonek mania emosi dan sakit hati melihat adanya oknum yang mempengaruhi delta yang selama ini tidak ada pro kontra.

Anarki merupakan masa lalu bonek, sekarang bonek bukanlah supporter yang anarki, bonek tidak akan mengamuk jika di provokasi, beberapa supporter musuh bonek yang selalu memprovokasikan bonek agar anarki, supaya di denda serta di cap jelak, hingga sekarang bonek tetap tabah dan sabar, beberapa lagu rasis yang dinyanyikan bonek merupakan gambaran kemarahan bonek karena sebelumnya dinyanyikan lagu oleh supporter musuh bonek yang mengejek serta memancing bonek agar anarki.

Selain itu Bonek merupakan simbol pejuang Surabaya pada peristiwa 10 november 1945 saat sekutu menyerang rakyat Surabaya, dengan keberanian serta bondo nekat rakyat Surabaya menyerang sekutu dengan senjata seadanya, sejak saat itulah sifat rakyat Surabaya turun menurun menjadi tradisi dan simbol keberanian arek suroboyo yaitu bonek. jadi bonek bukanlah kriminal atau perusuh.

Persib Bandung, atau sering disingkat menjadi Persib (Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung) adalah salah satu tim sepak bola Indonesia. Catatan prestasi tim ini relatif stabil di papan atas sepak bola Indonesia, sejak era Perserikatan sampai ke Liga Indonesia masa kini.

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting] Sejarah

Sebelum bernama Persib, di Kota Bandung berdiri Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB) pada sekitar tahun 1923. BIVB ini merupakan salah satu organisasi perjuangan kaum nasionalis pada masa itu. Tercatat sebagai Ketua Umum BIVB adalah Mr. Syamsudin yang kemudian diteruskan oleh putra pejuang wanita Dewi Sartika, yakni R. Atot.

Atot pulalah yang tercatat sebagai Komisaris Daerah Jawa Barat yang pertama. BIVB memanfaatkan lapangan Tegallega di depan tribun pacuan kuda. Tim BIVB ini beberapa kali mengadakan pertandingan di luar kota seperti Yogyakarta dan Jatinegara, Jakarta.

Pada tanggal 19 April 1930, BIVB bersama dengan VIJ Jakarta, SIVB (sekarang Persebaya), MIVB (PPSM Magelang), MVB (PSM Madiun), VVB (Persis Solo), dan PSM (PSIM Yogyakarta) turut membidani kelahiran PSSI dalam pertemuan yang diadakan di Societeit Hadiprojo Yogyakarta. BIVB dalam pertemuan tersebut diwakili oleh Mr. Syamsuddin. Setahun kemudian kompetisi tahunan antar kota/perserikatan diselenggarakan. BIVB berhasil masuk final kompetisi perserikatan pada tahun 1933 meski kalah dari VIJ Jakarta.

BIVB kemudian menghilang dan muncul dua perkumpulan lain yang juga diwarnai nasionalisme Indonesia yakni Persatuan Sepak bola Indonesia Bandung (PSIB) dan National Voetball Bond (NVB). Pada tanggal 14 Maret 1933, kedua perkumpulan itu sepakat melakukan fusi dan lahirlah perkumpulan yang bernama Persib yang kemudian memilih Anwar St. Pamoentjak sebagai Ketua Umum. Klub-klub yang bergabung ke dalam Persib adalah SIAP, Soenda, Singgalang, Diana, Matahari, OVU, RAN, HBOM, JOP, MALTA, dan Merapi.

Persib kembali masuk final kompetisi perserikatan pada tahun 1934, dan kembali kalah dari VIJ Jakarta. Dua tahun kemudian Persib kembali masuk final dan menderita kekalahan dari Persis Solo. Baru pada tahun 1937, Persib berhasil menjadi juara kompetisi setelah di final membalas kekalahan atas Persis.

Di Bandung pada masa itu juga sudah berdiri perkumpulan sepak bola yang dimotori oleh orang-orang Belanda yakni Voetbal Bond Bandung & Omstreken (VBBO). Perkumpulan ini kerap memandang rendah Persib. Seolah-olah Persib merupakan perkumpulan “kelas dua”. VBBO sering mengejek Persib. Maklumlah pertandingan-pertandingan yang dilangsungkan oleh Persib ketika itu sering dilakukan di pinggiran Bandung, seperti Tegallega dan Ciroyom. Masyarakat pun ketika itu lebih suka menyaksikan pertandingan yang digelar VBBO. Lokasi pertandingan memang di dalam Kota Bandung dan tentu dianggap lebih bergengsi, yaitu dua lapangan di pusat kota, UNI dan SIDOLIG.

Persib memenangkan “perang dingin” dan menjadi perkumpulan sepak bola satu-satunya bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya. Klub-klub yang tadinya bernaung di bawah VBBO seperti UNI dan SIDOLIG pun bergabung dengan Persib. Bahkan VBBO (sempat berganti menjadi PSBS sebagai suatu strategi) kemudian menyerahkan pula lapangan yang biasa mereka pergunakan untuk bertanding yakni Lapangan UNI, Lapangan SIDOLIG (kini Stadion Persib), dan Lapangan SPARTA (kini Stadion Siliwangi). Situasi ini tentu saja mengukuhkan eksistensi Persib di Bandung.

Ketika Indonesia jatuh ke tangan Jepang, kegiatan persepak bolaan yang dinaungi organisasi dihentikan dan organisasinya dibredel. Hal ini tidak hanya terjadi di Bandung melainkan juga di seluruh tanah air. Dengan sendirinya Persib mengalami masa vakum. Apalagi Pemerintah Kolonial Jepang pun mendirikan perkumpulan baru yang menaungi kegiatan olahraga ketika itu yakni Rengo Tai Iku Kai.

Tapi sebagai organisasi bernapaskan perjuangan, Persib tidak takluk begitu saja pada keinginan Jepang. Memang nama Persib secara resmi berganti dengan nama yang berbahasa Jepang tadi. Tapi semangat juang, tujuan dan misi Persib sebagai sarana perjuangan tidak berubah sedikitpun.

Pada masa Revolusi Fisik, setelah Indonesia merdeka, Persib kembali menunjukkan eksistensinya. Situasi dan kondisi saat itu memaksa Persib untuk tidak hanya eksis di Bandung. Melainkan tersebar di berbagai kota, sehingga ada Persib di Tasikmalaya, Persib di Sumedang, dan Persib di Yogyakarta. Pada masa itu prajurit-prajurit Siliwangi hijrah ke ibukota perjuangan Yogyakarta.

Baru tahun 1948 Persib kembali berdiri di Bandung, kota kelahiran yang kemudian membesarkannya. Rongrongan Belanda kembali datang, VBBO diupayakan hidup lagi oleh Belanda (NICA) meski dengan nama yang berbahasa Indonesia Persib sebagai bagian dari kekuatan perjuangan nasional tentu saja dengan sekuat tenaga berusaha menggagalkan upaya tersebut. Pada masa pendudukan NICA tersebut, Persib didirikan kembali atas usaha antara lain, dokter Musa, Munadi, H. Alexa, Rd. Sugeng dengan Ketua Munadi.

Perjuangan Persib rupanya berhasil, sehingga di Bandung hanya ada satu perkumpulan sepak bola yakni Persib yang dilandasi semangat nasionalisme. Untuk kepentingan pengelolaan organisasi, dekade 1950-an ini pun mencatat kejadian penting. Pada periode 19531957 itulah Persib mengakhiri masa pindah-pindah sekretariat. Wali Kota Bandung saat itu R. Enoch, membangun Sekretariat Persib di Cilentah. Sebelum akhirnya atas upaya R. Soendoro, Persib berhasil memiliki sekretariat Persib yang sampai sekarang berada di Jalan Gurame.

Pada masa itu, reputasi Persib sebagai salah satu jawara kompetisi perserikatan mulai dibangun. Selama kompetisi perserikatan, Persib tercatat pernah menjadi juara sebanyak empat kali yaitu pada tahun 1961, 1986, 1990, dan pada kompetisi terakhir pada tahun 1994. Selain itu Persib berhasil menjadi tim peringkat kedua pada tahun 1950, 1959, 1966, 1983, dan 1985.

Keperkasaan tim Persib yang dikomandoi Robby Darwis pada kompetisi perserikatan terakhir terus berlanjut dengan keberhasilan mereka merengkuh juara Liga Indonesia pertama pada tahun 1995. Persib yang saat itu tidak diperkuat pemain asing berhasil menembus dominasi tim tim eks galatama yang merajai babak penyisihan dan menempatkan tujuh tim di babak delapan besar. Persib akhirnya tampil menjadi juara setelah mengalahkan Petrokimia Putra melalui gol yang diciptakan oleh Sutiono Lamso pada menit ke-76.

Sayangnya setelah juara, prestasi Persib cenderung menurun. Puncaknya terjadi saat mereka hampir saja terdegradasi ke Divisi I pada tahun 2003. Beruntung, melalui drama babak playoff, tim berkostum biru-biru ini berhasil bertahan di Divisi Utama.

Sebagai tim yang dikenal baik, Persib juga dikenal sebagai klub yang sering menjadi penyumbang pemain ke tim nasional baik yunior maupun senior. Sederet nama seperti Risnandar Soendoro, Nandar Iskandar, Adeng Hudaya, Heri Kiswanto, Adjat Sudradjat, Yusuf Bachtiar, Dadang Kurnia, Robby Darwis, Budiman, Nur’alim, Yaris Riyadi hingga generasi Erik Setiawan dan Eka Ramdani merupakan sebagian pemain timnas hasil binaan Persib.Sampai saat ini Persib Bandung adalah tim Indonesia yang bisa di bilang paling dibanggakan oleh Indonesia karena prestasi dan kemampuannya.

[sunting] Stadion dan Mess

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Stadion Siliwangi

Hingga saat ini, Persib masih menggunakan Stadion Siliwangi untuk memainkan laga kandangnya. Stadion ini lolos bersyarat sertifikasi BLI sehingga layak untuk digunakan di kompetisi Liga Super Indonesia. Kapasitas Stadion yang hanya 20.000 ini membuat seringnya terjadi pembludakan penonton, seperti ketika Persib menjamu Selangor FA (Malaysia) dalam sebuah pertandingan persahabatan, juga ketika Persib menjamu Persema Malang di Divisi Utama tahun 2007.

Pada Indonesian Super League 2008/2009, Persib terpaksa harus meninggalkan Stadion Siliwangi setelah terjadi kerusuhan ketika menjamu Persija Jakarta pada pekan kedua. Ditambah situasi politik yang sedang memanas akibat berlangsungnya Pemilu 2009, Kepolisian Kota Bandung tidak lagi mengeluarkan surat ijin menyelenggarakan pertandingan di Stadion Siliwangi bagi Persib. Sebagai alternatif, dipilihlah Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung, sebagai “home-base” hingga akhir musim kompetisi.

Berdasarkan permasalahan itulah Pemerintah Kota Bandung berencana membangun Sarana Olahraga baru, termasuk stadion, di kawasan Gedebage. Stadion itu sendiri, yang peletakan batu pertamanya dilakukan pada awal 2008, ini diproyeksikan untuk menjadi home-base Persib serta untuk menyelenggarakan SEA Games tahun 2011 nanti. Stadion ini juga direncanakan untuk digunakan pada Porprov Jawa Barat 2010. Saat ini, kontrak pembangunan stadion yang rencananya akan diberi nama West Java Stadium ini telah diperoleh PT Adhi Karya Tbk dengan nilai Rp495,945 miliar. Diperkirakan, pembangunan stadion ini akan memakan waktu 883 hari.

Untuk lapangan latihan, Persib menggunakan Stadion Persib di Jl. Ahmad Yani. Stadion yang dulunya dikenal dengan nama Stadion Sidolig ini direnovasi sejak tahun lalu. Kini di stadion tersebut terdapat lapangan latihan dengan rumput baru dan trek berlari serta di sampingnya terdapat mess untuk tempat tinggal para pemain dan staff Persib serta untuk kantor. Pada pertengahan bulan Juli diadakan rencana renovasi tahap kedua, yaitu merenovasi bagian depan stadion yang sekarang ini hanya merupakan ruko-ruko tempat menjual kaos Persib dll. Rencana ini menimbulkan kerisauan bagi para pedagang di sekitar Stadion Persib karena mereka tidak akan mendapat penghasilan jika diwajibkan mengosongkan lahan bisnis mereka.

Sejak diresmikan, pernah bocor dan ambruk akibat pipa air yang bocor. Belum lagi masalah rumput lapangan yang mengering karena terlamess persib sudah beberapa kali mendapatkan masalah. Atap ruang VIP di mess itu sering dipakai. Akhir-akhir ini atap mess juga bocor akibat musim hujan, sehingga menyebabkan licinnya lantai dan terganggunya aktivitas. Letak Stadion Persib yang berada di Jl. Ahmad Yani yang merupakan pusat keramaian juga membuat istirahat para pemain terganggu dan mudahnya para bobotoh untuk masuk ke dalam stadion.

[sunting] Prestasi

Salah satu catatan unik dari tim ini adalah ketika menjuarai kompetisi sepak bola Perserikatan yang untuk terakhir kalinya diadakan, yaitu pada tahun 1993/1994. Dalam pertandingan final, Persib yang ditulang-punggungi oleh pemain-pemain seperti Sutiono Lamso dan Robby Darwis mengalahkan PSM Makassar. Kompetisi sepak bola Galatama dan tim-tim Perserikatan di Indonesia kemudian dilebur menjadi Liga Indonesia (LI). Pada laga kompetisi LI pertama tahun 1994/1995, Persib kembali menorehkan catatan sebagai juara setelah dalam pertandingan final mengalahkan Petrokimia Putra Gresik dimana gol tunggal pada pertandingan tersebut dicetak oleh Sutiono. Persib juga merupakan salah satu klub Indonesia yang berhasil mencapai babak perempat final Liga Champions Asia.

[sunting] Nasional

[sunting] Liga

Juara (5): 1937, 1961, 1986, 1990, 1994
Runner-up (8) : 1933, 1934, 1936, 1950, 1959, 1960, 1982/1983, 1984/[[1985]

[sunting] Piala

  • Piala Persija
Juara (1): 1991
  • Piala Kang Dada
Juara (1): 2008

[sunting] Internasional

Perempat Final (1): 1995

[sunting] Pelatih legendaris

[sunting] Pemain legendaris

Sejak bermain di kompetisi Perserikatan, Divisi Utama hingga Liga Super, Persib Bandung terus memiliki pemain yang berprestasi baik di klub maupun di Tim nasional, para pemain tersebut berhasil mengangkat nama persib di kancah persepak bolaan nasional dan juga nama Tim nasional di kancah internasional.

Sejarah Persebaya

 

Persebaya Surabaya

 

Persebaya Surabaya
Logo Persebaya
Nama lengkap Persatuan Sepak bola
Surabaya
Julukan Bajul Ijo
Green Force
Didirikan 1927
Stadion Gelora Bung Tomo,
Surabaya, Indonesia
(Kapasitas: 55.000)
Ketua Umum Bendera Indonesia Saleh Ismail Mukadar
Manajer none
Pelatih Bendera Indonesia Aji Santoso
Asisten Pelatih Bendera Brasil Gomes De Olivera
Bendera Indonesia Ibnu Grahan
Bendera Indonesia Machrus Afif
Dokter Tim Bendera Indonesia Heri Siswanto
Liga Liga Super Indonesia
2008-09 Divisi Utama, Peringkat 4
(Juara Play-off)
Kelompok suporter Bonek, Yayasan Suporter Surabaya

Persatuan Sepak bola Surabaya (disingkat Persebaya) adalah sebuah tim sepak bola Indonesia yang berbasis di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Persebaya pada musim 2006 bermain di Divisi Satu Liga Indonesia.

 

Contoh logo Bonek dari sekelompok pendukung atau suporter kesebelasan Persebaya Surabaya.

Suporter Persebaya dikenal sebagai bonek (bondo nekat) karena kefanatikannya terhadap Persebaya.

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting] Sejarah

Persebaya didirikan oleh Paijo dan M. Pamoedji pada 18 Juni 1927. Pada awal berdirinya, Persebaya bernama Soerabhaiasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB). Pada saat itu di Surabaya juga ada klub bernama Sorabaiasche Voebal Bond (SVB), bonden (klub) ini berdiri pada tahun 1910 dan pemainnya adalah orang-orang Belanda yang ada di Surabaya.

Pada tanggal 19 April 1930, SIVB bersama dengan VIJ Jakarta, BIVB Bandung (sekarang Persib Bandung), MIVB (sekarang PPSM Magelang), MVB (PSM Madiun), VVB (Persis Solo), PSM (PSIM Yogyakarta) turut membidani kelahiran Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI) dalam pertemuan yang diadakan di Societeit Hadiprojo Yogyakarta. SIVB dalam pertemuan tersebut diwakili oleh M. Pamoedji. Setahun kemudian kompetisi tahunan antar kota/perserikatan diselenggarakan. SIVB berhasil masuk final kompetisi perserikatan pada tahun 1938 meski kalah dari VIJ Jakarta.

Ketika Belanda kalah dari Jepang pada 1942, prestasi SIVB yang hampir semua pemainnya adalah pemain pribumi dan sebagian kecil keturunan Tionghoa melejit dan kembali mencapai final sebelum dikalahkan oleh Persis Solo. Akhirnya pada tahun 1943 SIVB berganti nama menjadi Persibaja (Persatuan Sepak Bola Indonesia Soerabaja). Pada era ini Persibaja diketuai oleh Dr. Soewandi. Kala itu, Persibaja berhasil meraih gelar juara pada tahun 1950, 1951 dan 1952.

Tahun 1960, nama Persibaja dirubah menjadi Persebaya (Persatuan Sepak Bola Surabaya). Pada era perserikatan ini, prestasi Persebaya juga istimewa. Persebaya adalah salah satu raksasa perserikatan selain PSMS Medan, PSM Makassar, Persib Bandung maupun Persija Jakarta. Dua kali Persebaya menjadi kampiun pada tahun 1978 dan 1988, dan tujuh kali menduduki peringkat kedua pada tahun 1965, 1967, 1971, 1973, 1977, 1987, dan 1990.

Prestasi gemilang terus terjaga ketika PSSI menyatukan klub Perserikatan dan Galatama dalam kompetisi bertajuk Liga Indonesia sejak 1994. Persebaya merebut gelar juara Liga Indonesia pada tahun 1997. Bahkan Persebaya berhasil mencetak sejarah sebagai tim pertama yang dua kali menjadi juara Liga Indonesia ketika pada tahun 2005 Green Force kembali merebut gelar juara. Kendati berpredikat sebagai tim klasik sarat gelar juara, Green Force juga sempat merasakan pahitnya terdegradasi pada tahun 2002 lalu. Pil pahit yang langsung ditebus dengan gelar gelar juara Divisi I dan Divisi Utama pada dua musim selanjutnya.

[sunting] Pemain-pemain terkenal

Persebaya juga dikenal sebagai klub yang sering menjadi penyumbang pemain ke tim nasional Indonesia baik yunior maupun senior. Sederet nama seperti Abdul Kadir, Rusdy Bahalwan, Rudy Keltjes, Didiek Nurhadi, Soebodro, Riono Asnan, Yusuf Ekodono, Syamsul Arifin, Subangkit, Mustaqim, Eri Irianto, Bejo Sugiantoro, Anang Ma’ruf, Hendro Kartiko, Uston Nawawi, Chairil Anwar, dan Mursyid Effendi merupakan sebagian pemain timnas hasil binaan Persebaya.

Salah satu yang cukup dikenang adalah Eri Irianto, pemain timnas era 1990-an yang meninggal dunia pada tanggal 3 April 2000 setelah tiba tiba menderita sakit saat Persebaya menghadapi PSIM Yogyakarta dalam pertandingan Divisi Utama Liga Indonesia 1999/2000. Eri Irianto meninggal di rumah sakit pada malam harinya. Nama Eri kemudian dipakai sebagai nama Wisma/Mess Persebaya yang diresmikan pada tanggal 25 April 1993.

Persebaya pernah mendapat pemain yang sangat berkualitas di ajang Liga Djarum 2005, pemain itu bernama Zeng Cheng ia berposisi sebagai Kiper. Zeng Cheng berasal dari China dan bagusnya ia membela Timnas U-20 China sebagai Kiper Cadangan. Dan sekarang, Zeng Cheng masuk daftar Kiper ketiga di Timnas Senior China.

[sunting] Kejadian kontroversial

Selain itu, dalam perjalanannya, Persebaya beberapa kali mengalami kejadian kontroversial. Saat menjuarai Kompetisi Perserikatan pada tahun 1988, Persebaya pernah memainkan pertandingan yang terkenal dengan istilah “sepak bola gajah” karena mengalah kepada Persipura Jayapura 0-12, untuk menyingkirkan saingan mereka PSIS Semarang yang pada tahun sebelumnya memupuskan impian Persebaya di final kompetisi perserikatan. Taktik ini setidaknya membawa hasil dan Persebaya berhasil menjadi juara perserikatan tahun 1988 dengan menyingkirkan PSMS 3 – 1

Pada Liga Indonesia 2002, Persebaya melakukan aksi mogok tanding saat menghadapi PKT Bontang dan diskors pengurangan nilai. Kejadian tersebut menjadi salahsatu penyebab terdegradasinya Persebaya ke divisi I. Tiga tahun kemudian atau tahun 2005, Persebaya menggemparkan publik sepak bola nasional saat mengundurkan diri pada babak delapan besar sehingga memupuskan harapan PSIS dan PSM untuk lolos ke final. Atas kejadian tersebut Persebaya diskors 16 bulan tidak boleh mengikuti kompetisi Liga Indonesia.Namun, skorsing diubah direvisi menjadi hukuman degradasi ke Divisi I Liga Indonesia.

Prestasi

[sunting] Perserikatan

  • 1938 – Runner-up, kalah dari VIJ Jakarta
  • 1942 – Runner-up, kalah dari Persis Solo
  • 1950 – Juara, menang atas Persib Bandung
  • 1951 – Juara, menang atas Persija Jakarta
  • 1952 – Juara, menang atas Persija Jakarta
  • 1965 – Runner-up, kalah dari PSM Ujungpandang (sekarang PSM Makassar)
  • 1967 – Runner-up, kalah dari PSMS Medan
  • 1971 – Runner-up, kalah dari PSMS Medan
  • 1973 – Runner-up, kalah dari Persija Jakarta
  • 1977 – Runner-up, kalah dari Persija Jakarta
  • 1978 – Juara, menang atas PSMS Medan
  • 1981 – Runner-up, kalah dari Persiraja Banda Aceh
  • 1987 – Runner-up, kalah dari PSIS Semarang
  • 1990 – Runner-up, kalah dari Persib Bandung

[sunting] Liga Indonesia

  • 1994/1995 – Posisi ke-9, Wilayah Timur
  • 1995/1996 – Posisi ke-7, Wilayah Timur
  • 1996/1997Juara
  • 1997/1998dihentikan
  • 1998/1999Runner-up
  • 1999/2000 – Posisi ke-6, Wilayah Timur
  • 2001 – ?
  • 2002 – Degradasi ke Divisi Satu
  • 2003 – Juara Divisi Satu, Promosi ke Divisi Utama
  • 2004Juara
  • 2005 – Mundur dalam babak 8 besar (awalnya diskorsing dua tahun, namun dikurangi menjadi 16 bulan, dan kemudian dikurangi lagi menjadi degradasi ke Divisi Satu)
  • 2006 – Juara Divisi Satu, Promosi ke Divisi Utama
  • 2007 – Posisi ke-14, Wilayah Timur (Tidak lolos ke Super Liga)
  • 2008 – Peringkat ke-4. Mengalahkan PSMS Medan dalam Babak Playoff lewat drama adu penalti. Kemudian, secara otomatis Persebaya lolos ke ISL.

[sunting] Liga Super Indonesia

  • 2009 – degradasi ke devisi utama

[sunting] Liga Champions Asia

  • 1998 – Babak pertama (masih bernama Piala Champions Asia)
  • 2005 – Babak pertama
Rasanya terhibur sekali kemarin dengerin Bonek bernyanyi-nyanyi dengan riang gembira di ajang Charity Game antara Garuda Merah vs Garuda Putih. Salut deh buat Bonek, Lebih baik melampiaskan emosi dengan bernyanyi penuh riang gembira, daripada dengan kekerasan. Selamat buat Om Nurdin sudah dapat kado spesial dari Bonek. Selamat Bernyanyi Kawan : 

Aku Punya Anjing Kecil
Ku Beri Nama Nurdin
Dia senang Berlari-Lari
Sambil Bernyanyi-Nyanyi

Nurdin Jancuk
Nurdin Jancuk
Nurdin Mbokne Ancuk

[Baca Selengkapnya]…

Persebaya akhirnya di nyatakan kalah WO, Persebaya yang seharusnya menghadapi Persik di Stadion Jakabaring, Palembang, Minggu (8/8/2010), menolak bertanding dengan tidak datang ke kota Palembang. 

Berikut kronologis dari awal permasalahan antara Persik vs Persebaya :

  • Tgl 29 April 2010 Kubu Persik Kediri gagal menggelar pertandingan home (kandang) melawan Persebaya karena alasan tidak mendapatkan ijin dari pihak keamanan.
  • Tgl 6 Mei 2010, Selanjutnya PSSI memindahkan laga ini di Yogjakarta, Persebaya hadir di lapangan, sementara kubu persik tidak hadir di lapangan. Akhirnya tgl 7 Mei 2010,, Komisi Disiplin PSSI mengeluarkan surat keputusan nomor 74/Kep/KD/ISL/II/V-10, bahwa menjatuhkan hukuman terhadap Persik kalah walkover (WO) dan denda sebesar Rp 25 juta terhadap Persik.Sanksi berdasarkan aturan Manual Liga Indonesia pasal 26 ayat 6, bahwa klub yang tidak melaksanakan pertandingan sesuai dengan jadwal dinyatakan kalah 0-3 serta pengurangan poin dan sanksi dari Badan Peradilan PSSI. (Hukuman sama dijatuhkan ke Persija karena gagal menggelar laga melawan Persiwa Wamena)
  • Persik Kediri Mengajukan Banding ke Komisi Banding PSSI dan Tgl 7 Juni 2010, Komisi Disiplin PSSI kembali menjatuhkan denda Rp 25 juta karena mengajukan banding ke Komisi Banding PSSI. (Merujuk Kode Disiplin PSSI Pasal 127, bahwa klub yang terkena denda di bawah Rp 50 juta dan sanksi dilarang bermain kurang dari tiga pertandingan tidak bisa mengajukan banding).
  • ANEHNYA -> Komisi Banding merekomendasi PT ISL menggelar tanding ulang Persik vs Persebaya untuk berebut tiket play off melalui surat keputusan nomor 6/Kep/KB/ISL/II/V-10. (Keputusan itu baru ekspose atau diterima Persebaya tertanggal 16 Juli 2010. Dan di putuskan tanding ulang di kediri 5 Agustus 2010.
  • 3 Agustus 2010, Polda Jatim melarang partai Persik lawan Persebaya di Kediri, larangan pertandingan ini pun akhirnya di teruskan ke Polres dan Panpel Persik. Pertandingan pun di nyatakan Gagal di gelar. Tapi anehnya Persik tetap ngotot datang ke stadion Brawijaya. Sementara kubu persebaya yg sebelumnya bersiap ke kediri mengurungkan datang karena larangan dari Polda Jatim.
  • 5 Agustus 2010, Begitu pertandingan di batalkan, PSSI masih ngotot bahwa Partai Persik vs Persebaya harus tetap di gelar. Akhirnya dipilih Palembang sebagai lokasi Pertandingan ini.
  • 8 Agustus 2010. Persebaya di nyatakan WO karena tidak hadir di palembang. Persik di nyatakan menang 3-0, tapi tetep belum bisa selamat dari Jurang Degrasi. Baik Persik dan Persebaya akhirnya di nyatakan Degrasi dan Persebaya terancam dapat sangsi tambahan karena tidak hadir di Palembang. Dalam kasus ini yg di Untungkan adalah Pelita Jaya Karawang. Karena walaupun Persik menang 3-0, tetap menang selisih Gol, dibutuhkan minimal menang 7-0 atas Persebaya untuk bisa meloloskan persik ke laga Play Off. Sementara Persebaya minimal harus menang 3-0 atas Persik untuk bisa lolos ke babak play off.

[Baca Selengkapnya]…

Apa kabar Stadion Gelora Bung Tomo? mungkin salah satu pertanyaan Arek Arek Suroboyo yang tidak sabar menanti kapan akan diresmikan Stadion yang nantinya akan menjadi kandang Klub Persebaya Surabaya ini. Stadion yang akan bisa menampung lebih dari 50.000 penonton tersebut sudah 82% selesai. 18% yang belum selesai dan kali ini dalam tahap penyelesaian adalah pada sisi penutup atap tribun, lintasan atletik di sekeliling pinggir Lapangan, Lampu pemancar 1.200 lux dari 42 titik lampu serta Scoring Board. 




[Baca Selengkapnya]…

Menjelang berakhirnya putaran pertama ISL beberapa waktu lalu saya mulai menyadari besarnya tekanan yg harus dihadapi Danurwindo dalam menangani Persebaya,untuk itu saya selalu membesarkan hatinya untuk terus melatih dan keluar saya selalu pasang badan untuk membelanya dgn berbagai alasan agar dia tetap bisa fokus dalam menangani team,namun pada sisi yg lain saya juga berjaga-jaga dgn menghubungi Fredy Muli agar mau kembali ke Persebaya pada putaran kedua.Prediksi saya terhadap daya tahan Danur menghadapi tekanan menjadi terbukti,ketika pertandingan yg amat mengecewakan dengan Persijap berakhir,dia menemui saya untuk mengajukan pengunduran dirinya sebagai pelatih Persebaya.saya mencoba tetap menahannya dgn beberapa alasan namun pada sisi yg lain saya juga menyadari dia tidak mungkin lg bisa fokus dengan kondisi seperti itu 

Untuk itu saya kembali menghubungi beberapa pelatih termasuk Ivan Kolev untuk melatih Persebaya,sayangnya dibutuhkan waktu paling cepat tiga minggu untuk mengurus administrasi Ivan Kolev,sementara pada sisi yg lain kita tdk mungkin menaikkan salah satu asisten pelatih menjadi pelatih kepala ketika mental team dalam kondisi drop pasca pertandingan melawan Persijap.
Setelah pendekatan dengan Fredy gagal saya menghubungi beberapa pelatih lokal dan asing juga membangun kembali hubungan dengan petinggi2 BLI untuk mengurangi tekanan non teknis yg sangat terasa sepanjang putaran pertama berlangsung.Sebenarnya saya tetap bertekad memberikan kesempatan kepada Danur untuk terus melatih bila saya mampu membenahi materi pemain yg memang menjadi masalah utama team.Upaya merekrut pemain baru untuk pengganti pemain yg jelek kontribusinya nyaris gagal karena kita selalu kedahuluan team2 lainnya dan saya amat yakin itu bagian dari gangguan non teknis yg menimpa kita maka pendekatan ke petinggi BLI dalam banyak bagian amat penting untuk mengangkat performa team dimusim ini.Alhamdulillah setelah hubungan harmonis terjalin kita relatif lebih mudah menghubungi siapapun tuk membenahi team maupun official,dan hari ini saya telah bersepakat dengan Rudi Wilyam Keltjes sebagai pelatih kepala Persebaya Persebaya dan juga Insya Allah bisa memperbaiki beberapa materi pemain di tengat waktu yg amat pendek.saya hanya mohon doanya agar Persebaya di tangan pelatih yg baru bisa tampil lebih semangat lg dgn karakter asli Persebaya dan mampu mendudukan Persebaya pada posisi yg pantas di ISL musim ini. (Ditulis oleh. Saleh Ismail Mukadar)
[Baca Selengkapnya]…